TIK TAK bebas

tik tak tik tak tik tak tik tak tik tak tik tak tik tak tik tak tik tak…

rangkaian huruf di atas menjadi awal pertanyaanku, kenpa aku tidak mengkopi paste saja tulisan itu berkali-kali, kenapa aku menulis berkali-kali, apakah mungkin karena sudah terlalu lama aku tidak menulis hingga membuatku lupa jalan pintas untuk melakukan hal ini itu. mungkin saja.

orang berangapan mungkin aku sedang menuliskan bunyi detakan jam analog, atau mungkin beberapa orang berangapan itu adalah gambaran dari sebuah waktu yang sunyi dan hanya terdengar suara detakan jam. aku membebaskan persepsi itu semua kepada para pembaca, toh persepsi orang akan suatu hal juga akan berbeda-beda dan ketika ada istilah “mari kita samakan persepsi kita dulu” aku kurang yakin apakan kita bisa satu persepsi atau tidak, beberapa persen kita bisa satu persepsi, tapi tetap saja ada beberapa penafsiran yang berbeda dari masing-masing orang, wajar saja kalu berbeda karena¬† mereka punya bagian otak imajinasi masing-masing yang mereka kendalikan sendiri.

hal inilah yang mungkin bisa kita lakukan saat ini, yaitu menghargai persepsi masing-masing orang. saat ini kita lebih bisa mengatakan “maklumlah” untuk menenangkan semua hal. berusaha untuk mengerti dan memahami apa yang kita hadapi, mencoba membaca baru bercerita, mencoba mendegar baru bicara, dan mencoba melihat sebelum menampilkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: